Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2011

Kadang-kadang Aku Ingat Kamu

Tak bisa terelakkan kepulanganku ke kampung halaman. Meninggalkan kota ini, meninggalkan sahabat dan saudara, meninggalkan hobi dan kecintaanku pada tari, meninggalkan karir yang dari semester awal coba aku tapaki pelan-pelan, dan meninggalkanmu, yang baru saja kutemukan.

Sangat berat., sangat pekat. Rasaku, inginku, dan kenyataan yang tidak bisa lagi diajak kompromi. Ayah sudah memerintahkan dengan keras untuk pulang. Itu berarti tidak ada lagi celah untuk curi-curi bertahan di sini. Tidak  ada alasan untuk bisa menari lagi, tidak pula untuk menjaga uti yang kini makin sendiri. Pada akhirnya nanti aku akan mengetahui alasan beliau menarikku pulang dengan paksa tak lain karena kecintaannya padaku, putri pertamanya.

Perjalanan dua hari dua malam paling tidak akan aku tempuh.Pesan-pesan pendek yang kuterima darimu menemani sepanjang perjalanan pulangku., terimakasih., itu membuatku merasa dekat denganmu.  Melewati kota demi kota demi kota di Jawa Tengah,  hati dan pikiranku terasa entah. Memasuki Jawa Barat., rasanya ingin aku turun dari bus dan menyeberang ke sisi lain jalan untuk menaiki kendaraan apapun yang menuju Jogja lagi. Namun aku merasa pengecut jika melakukannya. Hingga sampailah aku di pelabuhan.

Saat paling berat dari perjalananku adalah saat harus menyeberang., rasanya lautan yang entah luasnya itu akan benar memisahkanku dengan semua hal yang sangat kucintai enam tahun ini. Saat kapal lepas dari pelabuhan, jarak yang semakin membentang berbanding terbalik dengan kenangan. Lagi-lagi rasanya ingin aku merenangi lautan dan berdiri utuh di pelabuhan, bertahan di Jawa. Namun akan terkesan sangat berlebih rasa sentimentilku bila sampai melakukan itu. ahhh... kepulangan ini hanya harus dihadapi saja. Kapal merapat, sekarang rasanya aku hanya tinggal pasrah.
Lagi Handphoneku berbunyi,
Kamu..
"Sampaikan salamku untuk Ayah dan Ibu ya.."
Hmmm... andai suatu saat nanti kamu bisa benar-benar memanggil ayah dan ibuku sebagai ayah dan ibumu.
***

Pelan tapi pasti kesibukanku di kota ini mulai terbaca. Rutinitas yang akan kujalani berkisar antara rumah, rumah (sakit), terapi, dan konsultasi. Aku memang harus menjalani semua itu sekarang,. Di Jawa mungkin aku akan kesulitan menjalaninya. Selama di Jawa aku tidak membiarkan diriku sendiri istirahat, karena istirahat sama artinya dengan rasa sakit yang teramat sangat. Aku terlalu pengecut untuk mencari pertolongan pada dokter di rumah sakit ortopedi terbaik negeri ini. Aku takut. Walaupun semua sahabat dan saudara telah mendorong untuk melakukannya, namun pada akhirnya aku yang harus menjalaninya sendiri.
Aku takut bila akhirnya vonis  dari dokter yang serupa tangan kanan Tuhan di dunia adalah "anda tidak bisa menari lagi". Itu bisa berarti akhir dunia buatku. Dan terus terang saja, kadang muka miris orang-orang terdekatku jauh lebih menakutkan daripada apa yang kurasakan sendiri. Ahhh.. kadang-kadang sebagai seorang pengecut aku terlalu berani.

Di sini, melewati segala proses melelahkan itu, aku selalu ditemaninya. Dia yang sudah tujuh tahun bertahan menungguku (aku tidak ingin menambahkan kata setia di sini, karena siapa yang paham kesetiaan selain hati?). Toh sebenarnya aku juga tidak berharap dia setia. Tujuh tahun waktu yang cukup lama untuk bertahan dalam kegilaan menunggu wanita yang entah kapan mau pulang. Mungkin dia sudah berselingkuh satu, dua, tiga, empat, atau lima kali selama tujuh tahun. Namun apa peduliku, toh aku juga tidak bisa melarangnya mencinta atau sesekali mencumbu wanita lain. Aku sendiri tidak bisa ada di sana saat dia rindu, saat dia butuh. Lalu jika masih saja aku melarangnya untuk berselingkuh, aku merasa egois. (Mmmmm..beberapa teman wanita menyangka aku gila karena berfikir seperti ini, dan beberapa teman laki-laki sontak memintaku menjadi pasangannya, mereka berkata akan menjadikanku satu-satunya. Ahh., siapa bisa percaya??)

Wajah bahagianya tak pernah lepas sejak pertama kali mengetahui kepulanganku. Dia mengantar dan menjemput kemanapun aku pergi. Jika sedang tak ada tugas, sudah pasti dia akan menemaniku. Kadang aku bahagia, kadang aku terharu (terlalu lama aku meninggalkannya). Dia tidak akan membiarkanku mengerjakan sesuatu yang nampak berat. Menyapu, mencuci piring, hal-hal remeh itu dilarangnya dikerjakan olehku. Aku hanya sanggup tersenyum melihat kekhawatirannya. Di sela-sela bahagia dan haruku akan-nya, kadang-kadang aku ingat kamu.

Pernah suatu hari Ayah berkata "Karir dan uang masih gampang dicari, tapi cinta dan kesehatan itu ga bisa begitu saja didapat". Aku tahu itu sindiran ayah padaku atas ketulusannya selama ini menunggu kepulanganku, dan atas kerepotannya begitu akhirnya aku mau pulang. Waktu itu aku ingat melihat dia tersenyum nyaris bangga, dan aku tertunduk pelan nyaris kalah.
***

Kemarin aku sudah diminta untuk rongten tulang belakang, sore ini aku ada janji lagi dengan dokter untuk membaca hasil rongten. Lagi, dia menjemputku. Tanpa aku minta dia menemaniku menunggu antrian dokter, harusnya sore ini dia menyelesaikan laporan penjualan bulan lalu. Ahhh., lagi-lagi dia menambahkan daftar kebaikan yang harus kubayar. Berkali-kali dia memegang tanganku, mungkin dia tahu aku sangat ketakutan. Walau sudah dari lama aku persiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk, tetap saja kegugupan menyerangku lagi.

Tertulis di sampul hasil rongtenku trabekulasi tulang normal,tampak kyphosis L4-5.tampak destruksi corpus vertL3-4-5,sela vert L3-4-5 sempit.pedicle baik....tampak paravert swelling pada L3-4-5...
Bahasa yang sangat asing di telingaku itu adalah vonis yang akan dijatuhkan dokter beberapa saat lagi. 

"Ada kelainan pada tulang anda, yang menyebabkan mineralisasi abnormal, remodeling abnormal serta penipisan bagian posterior sehingga menyebabkan pergeseran............."
Aku tidak bisa dengan mudah mencerna maksud dokter, sebelum dokter berbicara terlalu banyak tanpa aku pahami maksudnya, aku potong ucapannya
"Apa saya masih bisa menari Dok?"
Aku tahu dia menahan nafas begitu mendengar aku dengan berani menanyakannya pada dokter,.
Aku tahu dokter yang ada di hadapanku tidak bodoh untuk mencerna pertanyaan sederhanaku
"Maaf, dengan berat hati saya harus mengatakan tidak. Anda harus memilih antara kesehatan atau karir anda, karena jika anda memilih salah satu maka anda tidak akan bisa mendapatkan yang lainnya"
Sontak dia memegang erang tangan kananku. Aku, yang tadinya memandang dengan berani mata dokter pelan-pelan tertunduk diam,.
Genggamannya terasa semakin erat membungkus tanganku yang beku,. Dia tahu ini adalah vonis yang sangat kutakutkan. Ini semacam mimpi buruk entah berujung entah tidak yang membuatku ketakutan hingga tak bisa bangun. Dia meyakinkan lewat usapannya di punggungku bahwa dia akan selalu ada disampingku melewati semua mimpi buruk itu, namun... aku kembali ingat kamu.
***